Travelling Menggunakan Sepeda New Zealand – Italy

Disini saya akan bercerita tentang pertemuan menarik saya dengan seorang bule asal Italia yang sedang travelling menggunakan sepeda dari New zealand menuju rumahnya italia.

Semoga cerita ini menarik untuk anda baca.

Sabtu, 24 Agustus 2019, pagi ini saya bangun pagi-pagi sekali. Karena hari ini saya akan menghadiri salah satu acara yang akan dimulai sekitar 08.00WIB. Acara 1000 startup di Semarang.

Saya begitu bersemangat hari ini. Entah apa yang ada didalam hati ini, rasanya ada yang berbeda saja. Ah mungkin saya akan menghadiri acara yang bagus banget untuk mengisi waktu luang saya.

Mengawali pagi dengan sarap telur dadar dengan sedikit nasi dan secangkir cokelat panas.

Sembari bernafas saya begitu bersyukur atas nikmat Allah yang telah diberikan pada saya.

Pukul 8 pagi saya mengendarai sepeda motor secara cepat menuju tempat acara yang berada di salah hotel di Semarang.

Sesampainya diacara tidak di sangka saya bertemu seseorang yang tidak asing bagi saya. Dia adalah admin dotSemarang namanya mas Asmarie. Dia adalah seorang blogger dari Semarang dan menjadi perwakilan media diacara, dulu saya sempat menghadiri acara kopdar blogger di Semarang yang dia buat oleh mas Asmarie.

Sudah lama rasanya, entah mengapa saya dipertemukan dengan dia kembali. Saya sangat senang karena dia adalah orang yang mau berbagi banyak, teruntuk berbagi informasi acara yang ada di Semarang.

Maklum dia di acara itupun di undang sebagai media. Bukan peserta yang mengikuti acara tersebut. Kami sempat ngobrol beberapa saat hingga waktu menujukan pukul 12 siang.

Karena mas Asmarie memiliki kesibukan lainya makanya setelah isitrahat acara dia memutuskan untuk meninggalkan acara.

Sementara saya masih duduk dibangku peserta sembari mengbrol dengan peserta lainya yang berada disamping saya.

Meski acara belum selesai dan sekitar pukul 1 siang lebih saya memutuskan untuk pulang. Menuju parkiran dan melajukan kendaraan sesegera mungkin.

Perkenalkan Fabio Rivellini

Setelah keluar dari hotel dan akan menuju rumah, saya melihat ada bule yang sedang mengayuh sepedanya secara perlahan dengan barang bawaan yang begitu banyak.

Saya ikuti dia dari belakang menggunakan sepeda motor untuk beberapa saat. Sepertinya dia tidak menyadari bawah sedang saya buntuti.

Sembari mengendarai motor dan hati saya berkata “Saya harus mengajak ngobrol ini bule, sepertinya akan banyak cerita menarik jika saya mengobrol denganya”.

Sejujurnya saja saya tidak bisa bahasa inggris, saya hanya bisa-bisa saja, itupun akibat ulahku sendiri yang sering bermain game dan suka menonton film dan mendegarkan lagu-lagu barat.

Dengan berani saya pepet sepeda nya sembari bialang “Where are you from sir?” si bule menjawab di atas sepedanya “From Italy”. Kemudian saya bilang “Can we talk?” , “Yes, sure” disaut oleh bulenya lagi.

Beruntung disitu ada emperan toko yang sedang tutup kemudian saya berhenti dan memarkirkan kendaraan saya ditrotoran. Dan bule tersebutpun ikut memarkirkan sepedanya.

Dan kemudian saya aja dia duduk di emperan toko sembari bertanya sekali lagi dari mana asalnya dan sedang apa dia disini.

“What your name?” tanyaku. “Fabio” sautnya sambil bersalaman.

Fabio berasal dari Italia namun dia bekerja sebagai engineer di Asutralia. Entah apa yang dia pikirkan, keluar dari pekerjaan dengan gaji 10 kali lipat lebih dibandingan Indonesia dan dia hanya ingin bersepedah dari New Zeland sampai Italy.

Saya hanya bisa menjawab “Wow”. Ini adalah perjalanan yang akan memakan waktu sangat lama jika menggunakan sepeda pikir saya.

Kebetulan disamping ada warung kecil, saya tawarkan saja minum. “What do you drink?” Dengan sigap di menjawab “Es teh” dengan nada khas bule, pasti kamu bisa membayangkanya.

“Bu, pesan es teh dua” kataku kepada ibu penjual. Saya tanya, apakah dia sudah makan siang, dia menjawab kalau dia habis makan.

Yasudah, kemudian kami melanjutkan obrolan kami, sayapun harus sering menggunakan translate untuk kata yang tidak saya ketahui. Tapi dia sangat memaklumi sekali.

Entah mengapa kita bisa mengobrol panjang lebar mengorek lebih dalam kegiatanya disini dan tujuannya.

Saya tanya berapa lama perjalanan dari New Zeland untuk sampai di Semarang, dia bilang sekitar 3 bulan lebih.

Not Like Common Tourist

Dia tidak seperti bule pada umumnya yang travelling menggunkan jasa agensi dan mengeluarkan banyak uang untuk perjalananya. Pikir saya mungkin karena turis bule yang lain mengejar waktu untuk bekerja kembali dan hanya punya waktu liburan sebentar.

Sementara dia memutuskan tidak bekerja dan menghabiskan waktunya untuk travelling.

Dia lebih suka tidur di tenda dan makan favoritenya adalah mie instan yaitu indomie. Jika tidak bisa mendirikan tenda maka terpaska dia harus menginap di hotel yang paling murah.

Saya mengajaknya kerumah saya untuk tidur dirumah saya namun dia menolak, karena dia sudah memesan hotel dan sudah terlanjur membayar.

Saya tanya kemana tujuan setelah dari Semarang, ternyata dia akan menuju ke karimun jawa dan kemudian menuju dumai, Sumatera. Dan selanjutnya akan bersepedah melewat negara-negara di Asia.

Saya tanya apakah kamu tau jadwal keberangkatan kapal ferry ke karimun jawa?

Ternyata dia tidak tau sama sekali, saya coba membantunya untuk mencarikan informasi dan dia sangat berterima kasih untuh hal tersebut.

Sebelumnya dia bertanya tentang bus yang menuju ke Jepara. Saya tidak begitu mengetahuinya karena terimal terboyo sudah lama ditutup dan pengetahuan saya akan hal tesebut tidaklah banyak.

Saya bilang saja “besok hari minggu tidak ada jadwal keberangkatan kapal ke Karimun Jawa. Kapal dari jepara berangkat hari senin pukul 7 Pagi Dan kamu harus menginap satu hari lagi”.

Dan dia cuku kaget mendengarnya,dan dia jujur jika visa yang dia miliki aktif tinggal 1 bulanan lagi dan dia harus munju Dumai, Sumatera untuk menyebrang menuju Malaysia sebelum tanggal 25 September 2019. Untuk meyakinkan, saya bilang “apakah tidak apa dan kamu bisa?” dia bilang tak apa, dia bisa menangani semuanya.

Lalu saya tawarkan sekali lagi “Begini saja, besok hari minggu saya ajak kamu keliling Semarang dan bisa menginap dirumah saya dan besoknya saya antarkan ke Pelabuhan” dan dia menjawab “Ya, tentu, apakah kamu tidak repot?” “Tidak apa, saya sangat senang dapat membantu kamu, kebetulan saya dalam kondisi bebas” saya lihat mukanya terlihat bahagia, mungkin karena dapat transportasi dan sangat berterima kasih.

“Nanti malam saya akan jemput kamu untuk keliling semarang malam hari!” Dia menjawab “ya, saya akan tunggu di hotel”.

Namun malamnya ternyata saya memiliki kesibukan dadakan lainya yang tidak bisa saya tinggalkan dan pulang cukup malam pada akhrinya saya tidak jadi mengajak Fabio keluar malam.

Karena ketika saya tanya apakah dia mau tidur lebih awal dan dia mengatakan iya, dia ingin tidur lebih awal. Jadi saya terpaksa membiarkannya mengambil istirahat lebih banyak.

Karena esok saya akan ajak keliling Semarang seharian penuh.

Explore Semarang

Hari minggu, 25 Agustus 2019. Pukul 08.00 pagi saya berangkat menjemputnya di hotel yang dekat dengan kota lama Semarang. Sembari membawakan helm yang saya masukan kedalam tas saya melaju kencang.

Sesampainya di hotel dia bilang binggung mau menyimpan sepeda dan perlengkapanya dimana, karena tempat hotel dia menginap tidak bisa dititipi sepeda dan barang untuk waktu yang lama sekitar 5 hari.

Karena dia akan ke karimun jawa, namun tidak menggunakan sepeda jadi dia perlu tempat penitipan.

Pertama saya coba ajak ke kampus saya, mungkin saja jika saya bilang kepada pak satpam siapa tau bisa di titipkan di dalam kampus. Tapi sesampainya di kampus satpam tidak berani ambil resiko terhadap barang bawaan bulenya, takut di apa-apakan manusia disitu.

Tapi kebetulan saya memiliki kawan yang tinggal di sebuah kontrakan di Semarang, saya coba hubungi dia dan bilang tidak masalah dan tempatnya aman untuk sepeda dan barang bawaanya.

Jarak dari hotel sampai kontrakan kawan saya sekitar 7Km lebih. Saya membawa sepeda motor dan sepeda bulenya tidak bisa di angkut menggunakan sepeda motor saya, karena barang yang di bawa sangat banyak sekali, dan akan sangat sulit.

Saya tanya apakah kamu mau bersepeda sampai sini ( kontrakan kawan saya ) dengan jarak segini? dia menjawab tidak apa saya bisa mengatasinya.

Akhirnya setelah dari kampus saya tidak bisa, kami kemudian menuju ke kontrakan kawan saya, saya ikuti dia menggunakan sepeda motor.

Saat melewati Taman Indonesia Kaya. Ada sebuah acara ditempat tersebut, ternyata ada sebuah lomba tari ratoh jaroe se-Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saya ajak dia untuk melihat tarian tersebut dan dia terlihat sangat antusias dan mulai mengabadikannya melalui lensa mata dan kamera hpnya. Jujur saja sayapun baru pertama kali melihat tari ratoh jaroe secarang langsung. Biasanya saya melihatnya di Youtube saja.

Saya katakan kepada Fabio, saya beruntung dan kamu lebih beruntung hari ini bisa melihat tarian dari kota Aceh dimana kamu tidak akan melewatinya di perjalananmu nanti. Meskipun tidak orang aceh langsung yang melakuakn tarian tersebut tapi setidaknya gerakanya tarianya sama.

Setelah salesai, kami melanjutkan perjalanan ke kontrakan kawan saya. Sesampainya di Kontrakan, beres-beres dan mengambil keperluan yang ada dan di masukan ke dalam tas carrier besar.

Karena hari ini saya ajak untuk explore semarang dan juga esoknya saya sekalian antarkan ke pelabuhan kartini Jepara.

Sam Poo Kong

Tujuan pertama hari ini adalah ke klenteng sam poo kong, karena sudah ke lawang sewu dan kota lama sebelumnya, maka saya tidak perlu mengajaknya kembali kesana.

Karena tiket untuk turis asing habis di Sam Poo Kong maka Fabio mendapatkan harga tiket lokal. Kembali beruntung.

Menikmati klenteng sam poo kong sebentar sembari saya beri sedikit tentang sejarahnya dengan bahasa inggris yang blepotan, akan tetapi dia selalu saja menghargai dan memahami perkataan bahasa inggris saya yang amburadul.

Setelah cukup puas. Dan waktu sangat mempet karena wisata selanjutnya tutup jam 3 sore. Kamipun melanjutkan perjalanan, rencannya mau langsung ke air terjun curug lawe dan benowo.

Air Terjun Curug Lawe & Benowo

Sebelum menuju air terjun kami melewati wisata Goa Kreo.

Karena kebetulan satu jalur, yasudah saya ajak sekalian saja untuk melihat Gua Kreo.

Disini saya belikan Fabio cemilan yang bisa dibilang khas jawa, yaitu tape.

Seorang ibu penjual menawarkan Fabio tape yang siap santap.

Setelah saya beli tidak dimakan ditempat, saya rencanakan makan tape sembari menikmati air terjun.

Setelah dirasa cukup dengan melihat-lihat goa kreo, sampai fabio masuk ke gua paling dalam.

Kami lanjutkan perjalanan ke wisata air terjun curug lawe benowo.

Kami sampai lokasi kurang lebih pukul 14.00WIB.

Setelah selesai dengan tiket dan tas besar bule yang ditinggalkan di pos jaga.

Kami mulai berjalan,

Menyusri sungai kecil hingga sampai dipertigaan menuju air terjun curug lawe dan curug benowo.

Kami memutuskan mengajak ke curug benowo terlebih dahulu karena air terjun ini memiliki jalurnya masing-masing.

setelah berjalan kurang lebih 30 menit.

Akhirnya kami sampai, karena berkunjung saat musim kemarau, debit air terjunpun tidak terlalu besar. Tapi kami sudah cukup puas dengan hal ini.

Tak berlama-lama disini kami melanjutkan perjalanan menuju air terjun selanjutnya.

Berjalan sangat cepat sekitar 30 menitan kami sampai ke air terjun ke dua yaitu curug lawe.

Disini sama debit air terjun tidaklah besar, akan tetapi masih dapat dinikmati juga.

Tape yang saya beli di Gua kreo tadi saya keluarkan.

Saya tawarkan kepada fabio.

Dia bilang ini adalah pertama kalinya dia makan tape.

Setelah habis satu tape, saya tanya “Bagaimana rasanya?” dia menjawab “Enak, rasanya cukup manis dan bikin perut kenyang”.

Fabio adalah bule yang mudah makan apa aja, hanya saja lidahnya tidak terbiasa dengan makanan pedas khas Indonesia. Setiap kali makan pedas mukanya langsung merah semua.

Kita duduk cukup lama disini. Sembari makan tape dan menikmati air yang berjatuhan.

Karena langit mulai gelap, kami memutuskan untuk pulang menuju rumah saya.

Rumah

Perjalanan pulang hari ini terasa lama, karena saya memutar jalan cukup jauh.

Sesampainya dirumah, dia sangat tertarik dengan sawah, sebuah pertanian penghasil beras yang akan menjadi nasi untuk kita makan.

Dia bilang “Di Italy saya tidak pernah melihat padi, bahkan kami tidak menggunakan nasi sebagai menu utama kami”.

Paman saya yang seorang penjual nasi goreng membuatkan Fabio nasi goreng.

Saya tanya “bagaimana rasanya?” dibilang “Rasanya hampir mirip dengan nasi goreng yang pernah saya beli di lain tempat”.

Setelah makan, mandi dan beristirahat sebentar. Sembari menunggu magrib selesai.

Karena setelah ini dia ngajak ke Cafe untuk ngopi.

Karena kebetulan dirumah saya dekat dengan cafe kopi prabu, saya ajak saja dia kesana. Kebetulan disana biasanya ada banyak varian kopi Indonesia.

Kawan saya mas Rudy ingin bertemu, katanya ingin bicara sama bule sekalian ngetes hasil belajar bahasa inggrisnya dair youtube, hehe.

Sekalian saja saya ajak mas rudiy untuk ngopi.

Coffee & No Money

Setelah sampai, ternyata di cafe tersisa dua jenis coffee yaitu Aceh Gayo dan Toraja.

Karena cuma ada dua, ya sudah pesan keduanya. Fabio saya rekomendasikan Aceh gayo dan saya sendiri memilih toraja. Biar nanti bisa ngicipin sekalian.

Setelah tegukan pertama untuk kedua buah kopi, saya tanya mana yang kamu suka.

Benar saja kopi yang saya rekomendasikan dia lebih menyukainya dibandingan kopi toraja milik saya.

Katanya Aceh gayo tidak terlalu kuat dan terasa sedikit manis, sementara toraja rasanya sangat keras.

Selang beberapa waktu kawan saya mas Rudy datang dengan ciri khas rambut kriting dan panjangnya.

Kami berbicara bahasa inggris layaknya anak kecil yang sedang belajar, sering bolak-balik membuka bantuan translate untuk kalimat yang tidak kami tau.

Tapi entah mengapa suasana begitu cair, kami bercanda seakan bahasa tidak memberikan pembatas diantara kami. dan kami saling memahami satu sama lainnya.

Fabio berceltuk “Apa kalian tidak ingin travelling?” secara polos kawan saya mengeluarkan kata candaanya “I Want, but here, Working Working No Money”, kami semua tertawa.

Fabio berkata “Saya doakan kalian sukses dan bisa keliling dunia seperti yang kamu inginkan”. Kami berdua hanya membalas “Tunggu kami ke Italia”.

Setelah cukup puas dengan kopi dan obrolan. Kami memutuskan untuk mencari makan.

Jaran Kepang & Nasi Kucing

Sebelum menuju tempat makan, kebetulan dekat dengan rumah saya ada acara jarang kepang atau kudang lumping. Saya ajak saja Fabio untuk melihatnya.

Dari wajahnya dia terlihat sangat antusia sekali, melihat musik tradisional dan tarian khas kuda kepang. Dia mulai mengeluarkan handphone untuk memgambil gambar sebagai bentuk kenangan.

Karena acara berangsung lama saya ajak untuk pulang lebih awal untuk mencari makan.

Sebenarnya mau makan di seafood milik saudara saya, karena tidak membuka lapak malam itu, akhirnya saya ajak saja ke warung nasi kucing.

Dia terlihat kebingungan karena belum pernah makan di tempat seperti ini.

Saya ambilkan beberapa nasi dan gorengan, dan kemudian saya kenalkan dengan wedangan susu jahe.

Saya bilang jika susu jahe sangat baik di konsumsi apalagi saat malam hari dapat menghangatkan tubuh. Namun jangan berlebihan cukup satu hari sekali saja.

Dan kalo kamu melihat warung seperti ini pada malam hari cobalah untuk membeli susu jahe.

Saya lihat muka fabio terlihat lelah, saya langsung aja pulang sekitar pukul 23.30WIB.

Karena jam tiga pagi kami sudah harus berkendara ke pelabuhan yang ada di Jepara.

Jalan Kaki Explore Karimun Jawa

Perjalanan dari rumah menuju pelabuhan kartini jepara membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih. Ini diakibatkan oleh saya yang tidak tau jalan.

Tidak masalah, ketika kami melewati demak, saya ajak dia untuk meliahat masjid Agung Demak sembari menikmati wedang ronde.

Setelah itu kami melesat kembali, dan mampir di mini market untuk membeli keperluan logistik saat di karimun jawa nanti.

Sesampainya di pelabuhan Fabio langsung mengantri tiket. Setelah itu kami mencari sarapan disekitar pelabuhan.

Fabio berencana memutari karimun jalan dengan jalan kali selama 3 hari.

Saya berpikir ini adalah perpisahan kami, karena dia kemungkinan kembali hari jumat malam. Sementara itu saya hari itu harus sudah pergi untuk melakukan pendakian ke gunung lawu.

Entah mengapa saya memiliki perasaan sedih saat berpisah dengan Fabio, padahal kami hanya bertemu sebentar dan berbagi cerita yang begitu menarik.

Setelah Fabio menaiki kapalnya saya kembali melesat pulang ke Semarang.

Kepulangan dan Perpisahan

Rabu, 28 Agustus 2019 malam hari saya sedang berkumpul dengan kawan kampus saya di nasi kucing BRI Pandanaran.

Saat melihat pesan masuk di instagram ternyata fabio sedang perjalanan pulang ke Semarang. Sesamapainya di semarang saya ajak untuk makan malam bersama kawan-kawan saya.

Setelah kenyang makan langsung saya antarkan pulang ke hotel tempat dia menginap. Karena esok hari di harus mulai bersepedah menuju kota terakhir yaitu Dumai, tapi sebelum itu dia harus menuju Pekalongan dan kota-kota lain di pinggiran jalan pantura.

Esok pagi saya jemput ke hotel untuk mengabil sepedah yang dititipkan di kontrakan kawan saya.

Setelah sampai Fabio lekas membereskan dan merapika perlengkapan yang akan dibawa.

Setelah selesai dan sebelum fabio pergi saya ajak di berfoto bersama untuk kenang-kengan. Siapa tau saja kalau saya ada rejeki kami dapat bertemu di Italy.

Follow instagram bulenya : DISINI

Tinggalkan komentar