Surga Kecil Tersembunyi Di Gunung Ungaran

Surga Kecil Tersembunyi Di Gunung Ungaran

Hai, ini adalah cerita singkat perjalanan saya menuju sebuah tempat yang saya sebut surga kecil tersembunyi di Semarang.

Tempatnya di kebun teh, lereng gunung Ungaran.

Tidak banyak orang yang tau tempat ini, karena memang tempat ini sudah jarang dijamah orang. Yang taupun masyarakat sekitar.

Tempatnya masih disekitaran kebun teh medini, hanya saja sudah tidak ada aktivitas produksi disini. Sehingga membuat tempat ini terlatar.

Berawal dari obrolan dengan kawan-kawan saya yang kebetulan ingin melakukan pendakian gunung bareng. Karena suatu alasan pekerjaan kita sulit untuk bisa melakukan pendakian bersama.

Setelah sering ngobrol bolak-balik setiap hari, kakak kawan saya merekomendasikan untuk tidak mendaki tapi camping saja.

Saya sempat meragukan hal tersebut, apa iya tempat campingnya bagus disini, setau saya gunung ungaran tempat camping hanya di basecamp mawar dan peromasan medini. Itupun saya anggap biasa saja tidak ada yang istimewa. Tapi kakak kawan saya ini meyakinnka saya kalo tempatnya gak abal-abal.

Camping

Singkat cerita dua kawan saya yang berkerja disatu tempat yang sama nekat memutuskan untuk berlibur bersama.

Mereka punya alasan kenapa nekat,katanya ingin menikmati alam dan kebersamaan diatas ketinggian bersama saya hehe PD sekali saya.

Ini memang obrolan kosong yang selalu kami lakukan setiap hari, berharap bisa mendaki gunung bersama entah kemana itu.

Yasudah, atas rekomendasi kakak kawan saya itu kami mulai merencanakan hal apa saja yang akan kami lakukan saat camping.

Menu utama saat itu adalah ayam bakar, karena kami pikir akan mudah diolah diatas sana.

Suatu waktu kami berkumpul dirumah kawan saya, dia bernama Rudy Misbah Abidin tapi banyak orang memanggilnya Karebet . Oh ya satu kawan saya lagi namanya Erwin yang akan ikut camping.

Kami berangkat sekitar pukul 8 malam.

Sebenarnya untuk sampai lokasi bisa mengunakan sepeda motor hanya saja medannya sangat ekstrim.

Karena medan yang belum saya kenali dan pada sorenya jalan sudah diguyur hujan, membuat jalan bebatuan yang saya lewati menjadi licin.

Apalagi ketika akan sampai lokasi, jalan bebatuan yang hampir jarang dilalui orang ini bertamba licin sekali karena air dan lumut diatasnya.

Ah sial, saya terjatuh menggunakan sepeda motor milik saya, sementara kawan saya tertawa menganggap saya ini tidak bisa mengontrol kendaraan. Padahal saya tidak tau medan dan apalagi medanya sangat licin dan sampingnya adalah jurang.

Tanjakan Jahanam

Saya menyebut tanjakan terkahir ini adalah tanjakan jahanam, bagaimana tidak hampir 30 menit kendaraan saya terjebak disini dikarenakan medan yang licin membuat ban motor saya selip.

Karena ketidaktahuan saya, seharusnya ban motor itu dikurangi anginya agar ban bisa menempel pada setiap batu yang dilewati, siangharin sebelumnya ban malah saya isi angin full. Meski sudah dikurangi tak membuat sepedah motor saya sampai atas. Dan pada akhirnya saya dan kawan-kawan saya menyerah dan memutuskan memarkir kendaraan dikebun teh. Padahal kalo sudah melewati tanjakan tersebut kita sudah sampai.

Karena jarang dilewati orang kami tak begitu khawatir akan kendaraan yang kami tinggal, karena memang pada saat itu cuma kita yang ada disitu dan tidak ada orang lain.

Berjalan sekitar 10 menit menuju lokasi camping.

Dan sekitar pukul 9 malam kami sampai lokasi.

Takjub

Takjub luar biasa adalah gambaran saya terhadap lokasi, rekomendasi kakak kawan saya memang bukan abal-abal.

Lampu perkotaan terlihat sangat jelas dan ditambah langit yang sangat cerah membuat jutaan bintang terlihat sangat jelas. satu kata : Indah.

Apalagi saat itu hanya kami bertiga ditempat tersebut, dingin, sunyi begitu damai.

Saya merasakan berada surga kecil tersembunyi milik-Nya. Nikmat apa ini, sulit diungkap oleh kata hanya diam terpaku.

Tak lama-lama kami bergegas mendirikan tenda, kemudian membuat api unggun dan mulai memasak untuk makan malam.

Arang yang mulai memerah dan ayam yang ditaruh diatasnya mulai harum karena memang sebelumnya ayamnya sudah diungkep oleh ibunya Erwin, membuat aroma ayam tercium harum.

Sembari menikmati hidangan yang sudah dibuat kami bercengkrama kesana-kemari berbicara tentang masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Jam menujukan puku 1 pagi kami masih bercerita, sementara sayamulai berbaring di pinggir perapian yang terus diisi kayu kering.

Berbaring sembari melihat langit berselimut bintang.

Senandung alam dan hewan saling bersahutan malam itu.

Nikmat apa ini? Merubah rasa merubah pikiran, meski nada-nada kota masih berbisik sampai atas ini, ah sulit aku ungkapkan rasa ini.

Damai, tenang.

Foto Pemandangan dan suasana

Sharing is caring!

Tinggalkan komentar