Pendakian Gunung Prau Bikin Rindu

Pendakian Gunung Prau Bikin Rindu

Sebuah jurnal pendakian gunung prau.

Gunung adalah sebuah tempat pelarian yang tepat. Gunung tidak akan menghilangkan masalah yang kita bawa, tapi menghindarkan diri dari masalah.

19 April 2019, ini adalah pendakian kedua saya ke gunung prau berasama 4 rekan saya. Ada Ardi, Intan , Erwin, dan jaya.

Perjalanan di mulai setelah solat jum’at.

Sebelum itu kami sudah melakukan pembelian logistik di pasar boja untuk memenuhi kebutuhan saat mendaki nanti.

Kami melakukan perjalanan dari boja melalui jalur alternatif kearah Temanggung melewati jalur yang disebut candi roto. Yang akan langsung tembus ke daerah dieng. Kami berencana mendaki melalui jalur patak banteng. Perjalanan yang kami tempuh dari boja ke basecamp sekitar 3 jam karena sambil nyantai. Saya pikir ini adalah hal bagus kerena sembari menikmati perjalanan.

Gunung Prau Sangat Ramai

Kebetulan saat itu sedang libur panjang, banyak sekali pendaki yang datang dari luar kota. Ditambah banyak juga pendaki open trip.

Sampai-sampai untuk membeli tiket saja harus mengantri panjang.

Sebenarnya saya kurang nyaman dengan banyaknya pengujung yang akan mendaki, saya mendapat info saat itu hampir 5000 lebih pendaki yang datang. Karena sudah sampai dan tidak mungkin mengganti jalur pendaikian, yaudahlah daripada mencari jalur lain, yang sepertinya juga ramai kami putuskan untuk melanjutkan pendakian melalui jalur patak banteng.

Pendakian dimulai sekitar jam 17.30WIB sore hingga sampai puncak sekitar jam 9 malam. Tak lama kami bergegas mendirikan tenda dan mulai memasak untuk makan malam.

Sebenarnya saya ingin menikmati malam itu untuk bercengkrama, tapi tanpa di sadari setelah masuk kedalam sleeping bag saya malah tertidur dan bangun jam 03.00 pagi.

Rencananya mau bikin foto milkway berasama Ardi, tapi teman saya yang bawa kamera ini sedang tertidur pulas sayapun tidak berani mengganggunya.

Terbangun hingga jam 04.00WIB saya keluar tenda dengan maksud untuk buang air kecil dan menuju bukit teletubis untuk menikmati langit yang cerah. Kebetulan saat itu prau sedang di terangi rembulan purnama.

Teman saya Erwin terbangun dan ingin ikut, akhirnya kami berdua berangkat ke bukit teletubis dan mencari toilet umum. Sembari menikmati langit yang begitu cerah dan kawasan dieng yang di terangi gemerlap lampu,Kami sedikit bercengkrama ngalor ngidul.

Setelah beberapa lama, saya dan Erwin memutuskan untuk turun ke tenda dan bermaksud membuat secangkir kopi. Ah, sial ternyata kopinya ada di tenda sebelah. Tak selang beberapa lama teman saya bangun.

Setelah menikmati secangkir susu dan roti sang mentari mulai memancarkan sinarnya ke langit.

Golden Sunrise

Sang surya mengitip dari timur. Indah , rasa lelah, dingin, dan lapar semuanya hilang dari pikirian ini. Hanya sebuah rasa hangat dari sang surya dan senyum para pendaki yang melihat sang golden sunrise yang akan meninggi ditengah dingin pagi.

Gunung prau terkenal dengan jukukan golden sunrise. Memang pantas mendapatkanya.

Moment ini tak kami sia-siakan dan kami mulai abadikan melalui mata dan kamera.

Berbicara tentang Gunung Prau, ada seorang pendaki mengatakan Gunung Prau itu cocok untuk orang yang ingin mendaki gunung tapi tidak punya banyak waktu, kita masih bisa menikmati waktu yang banyak di atas gunung ini. Dan selama 5 kali saya kesini tidak ada kata bosan hanya rindu yang terus dirasakan.

Ah memang Gunung Prau bikin RINDU .

Berikut Video Pendakian Gunung Prau 2019 dengan judul Gunung Prau Bikin Rindu.

https://www.youtube.com/watch?v=V8tI6hCXlBg

Tinggalkan komentar