Gunung Lawu Via Candi Cetho : Menghormati Alam & Malam Suro

Gunung Lawu Via Candi Cetho : Menghormati Alam & Malam Suro

Gunung lawu via candi cetho – Jumat, 30 Agustust 2019. Ini adalah pendakian pertama saya saya ke gunung lawu. Sebelum ini saya melakukan pendakian ke gunung sikendil.

Bersama 7 kawan saya yang lain, ada Erwin, Jaya, Arif Guntur, mas Ivan, mas Kukuh, cak Arif dan Rizky. Kami berencana melakukan pendakian ke gunung lawu via candi cetho.

Candi cetho karang anyar
Candi cetho karanganyar

Malam Suro

Tapi sebelum pendakian ini dimulai, banyak sekali orang yang melarang saya pergi mendaki gunung Lawu saat malam suro. Tapi kebetulan ini adalah waktu yang tepat dimana beberapa kawan saya yang lain dapat cuti kerja. Jadi tidak mungkin untuk mengurungkan niat kami. Iya kami berencana mendaki gunung lawu saat malam suro tepatnya hari sabtu, 31 agustus 2019.

Sebenarnya kembali ke niat dan tujuan kalo menurut pribadi saya, kami hanya ingin mendaki dan melihat alam di gunung lawu. Dan tidak hal yang mengarah ke hal negatif yang akan kami lakukan. Toh jika kami menghormati alam maka alam akan menghormati kami kembali, itu pikir saya.

Diskusi

Diskusi malam sebelum berangkat di rumah mas kukuh
Diskusi malam sebelum berangkat di rumah mas kukuh

Malam sebelumnya kami sudah berkumpul untuk berdiskusi tentang perjalanan hari ini dirumah mas Kukuh.

Mulai membahas akomodasi peralatan ( tenda, kompor, p3k dll ), transportasi dan konsumsi dan hal lainya yang sekiranya perlu dipersiapkan dan dibawa.

Kebetulan kawan saya yang sering di panggil Cak Arif memiliki kenalan yang merentalakan mobil.

Dan akhirnya kami mendapatkan harga sewa mobil cukup terjangkau untuk disewa selama 3 hari. Pendakian kami kali ini tidak menggunakan motor.

Mungkin untuk berangkat fisik kami masih kuat, tapi ketika perjalanan pulang nanti akan terasa lama dan bikin capek badan dan akan berbahaya jika menggunakan motor, apalagi untuk perjalanan pulang yang jauh dengan kondisi fisik setelah mendaki.

Dan kenapa kami juga tidak menggunakan modal transporasi umum karena kami mengejar waktu untuk kawan-kawan saya yang akan bekerja hari seninnya. Jadi alternatif kita sewa mobil 1 saja untuk 8 orang.

Esoknya kami berkumpul di rumah mas Kukuh yang akan menjadi titik kumpul.

Setelah melakukan pengecekan ulang barang bawaan, kami memulai perjalanan jam 5 Sore.

Kali ini, jalan yang kami lalui tidak menggunakan tol. Selain untuk mengehemat pengeluaran biaya, siapa tau ada kuliner yang menarik untuk dicoba di kota yang akan kami lewati.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam akhirnya kami sampai di kabupaten karanganyar.

alun-alun karanganyar
makan malam di alun-alun karanganyar

Karena perut sudah lapar akhirnya kami memutuskan untuk singgah makan di alun-alun karanganyar.

Niatnya sih mau cari makanan khas karanganyar. Tapi karena ketidaktahuan kami akan kuliner sekitar sini meskipun sudah googling dan lagi pula waktu sudah malam, akhirnya kami putuskan untuk mencari makan di alun-alun saja.

Setelah dirasa cukup kenyang, kami melanjutkan perjalanan dari alun-alun menuju basecamp pendakian, kurang lebih 1 jam perjalanan.

Sesampainya di basecamp kami bergegas tidur, karena besok kami akan menempuh perjalanan jauh dan melelahkan pastinya.

Hari Pendakian

Sabtu, 31 Agustus 2019. Pagi hari sekitar pukul 6 pagi kami terbangun. Kembali melakukan packing ulang untuk memastikan semua keperluan sudah siap semua.

Setelah semua packing lengkap, kami mulai melaksanakan sarapan pagi, sebagai syarat untuk memberikan energi yang cukup saat melakukan perjalanan.

Registrasi simaksi pada pukul 08.00 pagi. Setelah selesai kamipun mulai perjalanan.

Pos 1 – 2

Dari registrasi menuju pos 1 dan pos 2 kawan saya yang sering di sapa Cak Arif melesat dengan cepat didepan berasama mas kukuh. Sementara saya bertugas sebagai tim sapu bersih saja.

Benar saja ketika perjalanan menuju pos 1 kawan saya Arif, oh ya ini arif yang berbeda bukan cak Arif. Dia mengalami drop, badanya berkeringat deras dan merasa pusing dan terpaksa harus saya gantikan tas carrier bawaannya yang berat dengan tas carrier saya yang lebih ringan. Dan dia harus mengambil istirahat lama dahulu padahal kami baru berjalan kurang lebih 20 menit.

Pos 2 Gunung Lawu via cetho
Pos 2 Gunung Lawu via cetho

Sementara saya suruh kawan saya yang lain untuk melanjutkan perjalanannya. Saya tanya kepada kawan saya Arif apakah dia sanggup dan mau melanjutkan perjalanan, dan dia bilang sanggup, tapi pelan saja.

Saya rasa ini tidak masalah bagiku apalagi disetiap pendakian saya selalu berada dibelakang dan toh saya adalah pendaki paling lambat sekali.

Seperti kata pepatah jawa yang sering di ucapkan “Alon-alon asal kelakon”.

Pos 3 dan Air Bersi

Menurut saya perjalanan paling berat di jalur ini adalah ketika dari pos 3 menuju pos 4, nanjak terus. Sebelum mencapai pos 3 akan ada air bersih yang bisa kita manfaatkan jika kekurangan air.

Air bersih sebelum pos 3 gunung lawu
Air bersih sebelum pos 3

Pos 4 – 5

Perjalanan dari pos 4 ke pos 5 juga cukup melahkan karena tracknya yang cukup panjang.

Pos 5 bulak Peperangan gunung lawu
Pos 5 bulak Peperangan

Tapi saat akan sampai pos 5 kawan saya cak Arif juga sudah tidak sanggup, sampai dia harus tidur di batang pohon bak kasur yang empuk. Dan kemudian Erwin berinisiatif mebawakan tas carrier milik Cak Arif.

Maklum ini kali pertama kawan saya cak Arif mendaki gunung dan langsung gunung Lawu.

Total perjalanan yang kami tempuh menuju tempat camp yaitu 9 jam perjalanan. Oh ya kami camp di pos 5 Gupak Menjangan. Karena kami berencana summit esok harinya saja. Lagi pula badan sudah lelah dan mata sudah sayup.

Gupak menjangan pos 5
Gupak menjangan pos 5

Sekitar pukul 5 sore lebih kami sampai area camp dan sesegera mungkin mendirikan tenda. Karena langit mulai gelap dan udara makin dingin ditambah perut yang sudah begitu lapar.

Setelah selesai dengan urusan tenda, kami mulai masuk ke tenda untuk untuk menikmati nimuman hangat dan sekaligus makan.

Maklum selama perjalanan kami hanya ngemil saja tidak ada isitirahat untuk makan besar.

Malam Di Lawu

Saya, Erwin dan Rizky berniat membuat foto milkway di sekitar area camp malam itu, tapi merasakan badan yang begitu lelah ditambah suhu yang dingin kami putuskan untuk berisitrahat saja.

Suhu dalam tenda begitu hangat malam itu. Entahlah kenapa bisa hangat padahal suhu diluar dibawah 5 derajat.

Sekitar pukul 3 pagi saya terbangun karena sudah tidak bisa dipaksakan tidur kembali. Akhirnya saya cuma rebahan sembari mendengarkan musik samar-samar.

Pada pukul 4 pagi Erwin dan Jaya terbangun. Sementara empat kawan saya yang lain masih tidur di tenda sebelah. Dan Arif saya biarkan mengambil istirahat lebih.

Puncak Gunung Lawu

Hargo dumilah Puncak Gunung Lawu
Hargo dumilah Puncak Gunung Lawu

Sekitar setengah tujuh pagi setelah menikmati sunrise di gupak menjangan, kami langsung summit ke puncak lawu.

Salama perjalanan summit kami disuguhkan sabana yang indah dan luas, anehnya sabana disini jika di foto tidak di sesuai dengan apa yang dilihat. Jujur saya dan Rizky sampai binggung difoto tidak bagus tapi dilihat mata langsung, terlihat begitu indah.

Setelah melewati sabana kita akan melewati pasar dieng atau yang sering disebut pasar setan. Setelah melewati pasar setan kami langsung summit ke puncak.

Setelah berjalan satu jam lebih akhirnya kami sampai di puncak Hargo Dumilah Gunung lawu.

Menikmati sebentar puncak kemudian berswafoto.

Setelah dirasa puas berada dipuncak kami turun untuk makan di warung tertinggi di pulau jawa.

Warung Puncak Lawu Mbok Yem

Warung Mbok yem gunung lawu
Warung Mbok yem

Setelah lelah yang masih terus terasa dan perut mulai mengecil. Akhirnya kami singgah sebentar untuk menikmati pecel di warung legendaris di gunung lawu. Warung puncak lawu mbok yem.

Dengan mengeluarkan uang 18 ribu rupiah kami sudah bisa menikmat pecel dan segela teh panas. Sangat terjangkau, ini melihat posisi warung yang berada di ketinggan 3.150mdpl berselisih 115 meter dari puncak.

Pecel mbok yem gunung lawu
Pecel mbok yem

Selesai makan dan berbincang sebentar didalam warung, kami melanjutkan perjalanan turun untuk kembali pulang. Menikmati tiap jengkal langkah kaki dan merasakan indahnya dan megahanya gunung lawu dari dekat.

Ini adalah sebuah perjalanan yang berkesan. bagaimana tidak, pendakian kami dilakukan saat malam suro.

Meski banyak orang yang melarang pendakian saat malam suro, tapi kami tetap nekat, karena dengan niat yang baik saya yakin tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Kami seperti hanyalah tamu yang harus menghormati tuan rumah, jika tuan rumah merasa nyaman dengan kehadiran tamunya saya yakin tuan rumah akan senang.

Mungkin itu saya jurnal pendakian saya ke gunung Lawu via Candi Cetho.

Selam lestari sampai jumpa lagi.

Jangan lupa untuk meninggalkan komentar.

Sharing is caring!

Tinggalkan komentar