Gunung Kembang Via Blembem : Sebuah Jurnal Pendakian

Gunung Kembang Via Blembem : Sebuah Jurnal Pendakian

Halo dulur, tanggal 13 juli 2019 saya melakukan pendakian ke gunung kembang bersama 5 kawan saya.

Ada Erwin, Jaya, mas Ivan, Rizky dan bang Tutur.

Meski gunung kembang tak sepopuler gunung prau, gunung sikunir ataupun gunung yang lain ada di Wonosobo, akan tetapi saya yakin setiap gunung memiliki kesannya masing-masing.

Disini saya tidak memberikan estimasi waktu perjalanan setiap pos. Karena fisik dan mental masing-masing orang berbeda.

Harusnya hari itu kami berangkat pagi-pagi sekali. Karena ini pendakian pertama kami ke Gunung kembang dan belum mengenal jalurnya seperti apa.

Takutnya kalo tidak sampai puncak tepat pada waktunya saja.

Karena kami berharap bisa menikmati sunset di Gunung Kembang.

Karena bang Tutur harus bekerja dulu selama setengah hari, kami memutuskan untuk menunggunya. Tak apalah, kasihan juga kalau misal ditinggal, ya sembari belajar menahan ego dan kesabaran yang ada.

Baca juga : Gunung Prau : Sebuah Jurnal

Sekitar pukul setengah 1 siang kami memulai perjalanan dari rumah mas Ivan menuju lokasi, kami berencana melakukan pendakian ke gunung kembang via blembem.

Sekitar ashar kami sampai di basecamp blembem, meskipun harus nyasar dulu.

Sesampainya di basecamp kami bergegas istirahat sebentar, sembari melaksanakan makan dan solat. Kemudian beberapa saat ada petugas BC yang mengahampiri kami untuk melakukan pengecekan barang bawaan kami.

Pengecekan barang oleh petugas BC kembang sangatlah ketat. bagaimana tidak, setiap barang yang dibawa dan akan menjadi sampah benar-benar dicek dan dicatat saat berangkat dan akan dicek kembali saat turun.

Baru kali ini menadaki gunung pengecekanya sangat detail. Menurut saya ini adalah hal baik, mampu meningkatkan disiplin pendaki serta menjaga lingkungan sekitar. Tapi selalu, setiap ada kebijakan akan memiliki pro dan kontra.

Jika sekiranya kebijakan dari petugas BC Kembang sangat berat mungkin teman-teman pendaki bisa memberikan masukan yang baik.

Disini tidak diperbolehkan membawa botol mineral dan wajib di gantikan menggunakan jerigen yang sudah disedikan pihak BC kalo semisal teman-teman tidak membawanya.

Karena peraturan yang begitu ketat ini, kami putuskan satu bungkus permen yang dibawa untuk ditinggal.

Setelah selesai dengan pengecekan barang, makan dan menyelesaikan biaya administrasi lainya, kami mulai packing ulang dan bergegas berangkat.

Menuju Kandang Celeng

Perjalanan dari BC sampai kandang celeng yang kami butuhkan kurang lebih sekitar 1 Jam 30 menitan. Dan sepanjang perjalanan sampai ke kandang celeng kami melewati kawasan kebun teh.

Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya kami sampai kandang celeng. Ini ditandai dengan adanya spanduk bertuliksan “Selamat Datang Di kandang Celeng”

Baca juga : Dieng dan telaga warna yang gagal aku singgahi

Kandang celeng menjadi penanda bahwa kami akan memasuki area hutan gunung kembang. Dan akan berpisah dengan kebun teh yang sudah menamani kami dari BC.

Dan perjalanan sesungguhnya baru akan dimulai.

Meskipun memiliki ketinggian gunung kembang sekitar 2340Mdpl, jalur pendakian Gunung Kembang saya kategorikan tidak rekomendasi untuk pemula, karena trek gunung kembang sangat curam dan sedikit sekali bonus trek landainya, malah bisa saya bilang hanya 1 persen saja kontur tanah yang ladai dari seluruh perjalanan.

Tanjakan Mesra gunung kembang
Tanjakan Mesra gunung kembang

Apalagi ketika memasuki tanjakan mesra gunung kembang, tracknya sangat curam sekali dan ini adalah tanjakan terakhir sebelum mencapai puncak.

Setelah menempuh perjalanan lebih dari 3 jam dari kandang celeng akhirnya kami sampai puncak sekitar jam 9 malam. Ini artinya dari BC sampai puncak kami butuh waktu kurang lebih 5 jam.

Puncak Gunung Kembang

Suasana puncak gunung kembang
Suasana puncak gunung kembang

Sesampainya dipuncak kami tak berlama-lama untuk mendirikan tenda dan bergegas memasak untuk menikmati secangkir cokelat hangat sekaligus makan malam.

Setelah selesai memanjakan perut, kami mulai sedikit bercengkrama hingga pada akhirnya satu per satu kawan saya tertidur, ini sebab akibat karena perjalanan yang cukup lama dan melelahkan mereka.

Tapi tidak untuk saya, Erwin, dan rizky. Moment ini tidak kami sia-siakan hanya untuk tidur dini, dan kami bertigapun keluar tenda untuk menikmati suasana malam di gunung kembang, sementara yang lainya sudah berada di alam mimpi.

Setelah sudah cukup puas menikmati keramahan gunung kembang dimalam hari, kami bertigapun bergegas untuk tidur.

Pagi dan Celeng

Suara pendaki lain yang sedang berbicara di tenda sebelah terdengar samar-samar. Sementara saya masih berdiam diri didalam sleeping Bag yang memeluk hangat. Ternyata mentari membangunkan para pendaki.

Mentari masih bersembunyi dibalik gunung Sindoro. Gunung kembang memang tidak memiliki view sunrise, akan tetapi memiliki pemandangan kemegahan gunung sindoro.

Karena tidak memiliki view sunrise, pagi-pagi sekali kami ingin membuat sarapan.

Pagi ini Erwin bermaksud untuk membuatkan kami sarapan bubur kacang ijo.

Tapi aneh kacang ijo yang dibawa malah tidak terlihat ditenda, padahal semalam sudah dikeluarkan. Dan kamipun mulai mencarinya secara menyeluruh di tenda. “Kok tidak ada ya?” pikirku sambil mencari.

Disela-sela kami mencari kacang ijo yang masih misteri hilang dimana, ada salah seorang pendaki yang mengujungi tenda kami sembari menenteng kamera. Dan bilang “Mas, tendanya keserang babi engga?” sayapun menjawab “Engga tuh mas! emang kenapa?” . “Ini mas, tenda saya tadi malem keserang sampai sobek” Mas-mas tersebut sembari memperlihatkan foto tenda yang sobek kepada saya.

Bodohnya saya masih belum sadar akan hubungan antara si celeng dan kajang ijo yang hilang. Hingga beberapa saat …

Saya akhirnya menaruh curiga dan mulai menelusuri samping tenda, kok aneh, ada sampah milik tenda kami yang berceceran menuju hutan. karena kebetulan tenda kami dekat ke arah hutan.

Sampah menutun saya menuju kacang ijo yang hilang, ah sial bagi kami, benar saja kacang ijo sudah berceceran ditanah ternyata di ambil si celeng. Rejekinya si celeng memang.

Semalam kami benar-benar tertidur pulas hingga tidak merasakan ada babi yang masuk. Padahal saya dan Erwin tidur diteras tenda, yang dimana bahan makanan ada disebelah kami.

Setelah saat itu saya bertanya pada tetangga sebelah, ternyata mereka mendengar suara babi sekitar jam 3 pagi, namun hanya kami saja yang benar-benar tidak mendengar si celeng memasuki tenda kami. Ah belum rejeki memang untuk membuat bubur kacang ijo di gunung kembang.

Erwin memasang wajah kesal. Dan sayapun sedikit mengejeknya karena selalu saja gagal ketika membawa kajang ijo ke atas gunung.

Saya juga sedikit kesal, karena takut sampah yang kami bawa tidak sama dengan barang yang kami bawa naik karena sudah diobrak abrik si celeng.

Maklum ini pendakian pertama kali dengan pengawasan yang begitu ketat.

Gunung Kembar Sindoro Sumbing dari Gunung Kembang

Kami mulai melupakan kekesalan kami terhadap si celeng dan mulai menikmati pagi hari di gunung Kembang. Sedikit berswafoto dan mengambil footage video.

Didepan kami disuguhkan kemegahan gunung sindoro, puncaknya yang tinggi menjulang menutupi gunung kembang dari sinar mentari pagi. Tak hanya itu kami juga dapat melihat kemegahan gunung sumbing dari sini.

Kemudian ada seorang pendaki yang mendatangi saya sembari bilang “Mas, minta tolong ambilin footage video dong” dan saya masih memeganggi kemara dan langsung membuatkanya sedikit footage video.

Setelah selesai mengambil sedikit video untuk dia, saya bilang “Namanya siapa mas?” “Panggil aja Uje mas” sapa orang tersebut.
“Darimana mas?” sambung saya, “Dari jogja mas, masih kuliah dijogja”.
“Memang aslinya darimana mas?”, “Dari kendal” sautnya. Karena teman saya juga banyak yang berasal dari boja, kendal dengan reflek saya menjawab “Lha ini rombongan saya juga dari kendal”.

Pada akhirnya mas uje bercerita panjang lebar tentang pendakian. Ternyata mas uje ini sudah tiga kali naik ke Gunung Kembang. Saya sekali saja sudah kapok hehe. Dan sudah banyak gunung yang dia sambangi ketimbang saya yang naik gunung kalo pengen saja, dari cara dia bercerita ini orang memang jarang dirumah.

“Saya kira gunung kembang sama kayak gunung prau, cepet dan mudah didaki, ternyata tidak” Celoteh teman saya.

Mas uje langsung menanggapi celotehan tersebut, “Ya gitu mas, masih banyak orang yang menyepelekan hal-hal kecil digunung, gunung kembang memang terlihat sepele memiliki ketinggian hanya dibawah 2500mdpl, tapi kalo bisa anggap semua gunung sama, jangan di sepelekan. Apapun itu sifat sepele itu berbahaya.”

Dan teman sayapun sedikit tersadar dan terdiam. Sayapun sedikit merenunginya, sebagai bahan pengingat saya kala mendaki gunung-gunung yang lainya, menyepelekan sifat sepele.

Setelah selesai bercengkrama kesana-kemari kami mulai kembali ketenda dan memasak kemudian beristirahat sebentar dan selanjutnya melakukan perjalanan pulang.

Semoga apa yang saya dapat di gunung kembang akan menjadi cerita menarik untuk kamu.

Salam lestari dan sampai jumpa lagi.

Sharing is caring!

7 pemikiran pada “Gunung Kembang Via Blembem : Sebuah Jurnal Pendakian”

Tinggalkan komentar